Alir Listrik

Sebuah arus listrik adalah laju aliran muatan listrik melewati suatu titik[1]:2[2]:622atau bagian[2]:614 Arus listrik dikatakan ada ketika ada aliran bersih muatan listrik melalui suatu bagian.[3]:832 Muatan listrik dibawa oleh partikel bermuatan, sehingga arus listrik adalah aliran partikel muatan. Partikel yang bergerak disebut pembawa muatan, dan dalam konduktor yang berbeda mungkin jenis partikel yang berbeda. Di sirkuit listrik, pembawa muatan seringkali elektron yang bergerak melalui kawat. Dalam elektrolit pembawa muatan adalah ion, dan dalam gas terionisasi (plasma) adalah ion dan elektron.[4]
Arus listrik

Sebuah sirkuit listrik sederhana, di mana arus listrik diwakili oleh huruf i. Hubungan antara tegangan listrik (V), hambatan listrik (R), dan arus listrik (I) adalah V = IR; ini dikenal sebagai hukum Ohm.

Simbol umumISatuan SIampereDimensi SIITurunan dari
besaran lainnya{\displaystyle I={V \over R}\,,I={Q \over t}}
Satuan SI dari arus listrik adalah ampere, yang merupakan aliran muatan listrik melintasi permukaan dengan kecepatan satu coulomb per detik. Ampere (simbol: A) adalah unit dasar SI[5]:15 Arus listrik diukur menggunakan perangkat yang disebut ammeter.[6]:788
Arus listrik menyebabkan pemanasan Joule, yang menciptakan cahaya dalam bola lampu pijar. Mereka juga menciptakan medan magnet, yang digunakan dalam motor, generator, induktor, dan transformator

SOP Pemasangan Infus Lengkap Sesuai Standar Akreditasi



Pemasangan infus merupakan salah satu tindakan dasar dan pertama yang dilakukan oleh tenaga kesehatan – khususnya perawat – sebagai awal dari rangkaian kegiatan pengobatan dan perawatan terhadap hampir semua jenis kasus baik itu gawat, darurat, kritis, ataupun sebagai tindakan profilaksis.
Karenanya, sebagai tenaga kesehatan – khususnya perawat – adalah sebuah keharusan untuk bisa melakukan tindakan pemasangan infus yang baik dan benar sesuai standar operasional prosedur yang berlaku agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari.
Untuk SOP pemasangan infus, setiap instansi pelayanan kesehatan pasti mempunyai SOP yang berbeda-beda, tergantung referensi mana yang digunakan. Namun secara garis besar, terapi intravena semuanya sama.
Berikut adalah SOP pemasangan infus yang umum digunakan di berbagai fasilitas kesehatan yang ada di Indonesia baik itu Rumah Sakit, Puskesmas ataupun Klinik.


Pengertian Pemasangan Infus

Pemasangan infus adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan untuk memasukkan obat atau vitamin ke dalam tubuh pasien (Darmawan, 2008).
Sementara itu menurut Lukman (2007), terapi intravena adalah memasukkan jarum atau kanula ke dalam vena (pembuluh balik) untuk dilewati cairan infus / pengobatan, dengan tujuan agar sejumlah cairan atau obat dapat masuk ke dalam tubuh melalui vena dalam jangka waktu tertentu.
Rekomendasi artikel :

50 Tips Pemasangan Infus dalam 1 Kali Tusukan

12 Tips Sukses Pemasangan Infus pada Bayi dan Anak-anak

SOP Pemasangan Kateter Urine Lengkap

Tindakan ini sering merupakan tindakan life saving seperti pada kehilangan cairan yang banyak, dehidrasi dan syok, karena itu keberhasilan terapi dan cara pemberian yang aman diperlukan pengetahuan dasar tentang keseimbangan cairan dan elektrolit serta asam basa.

Tujuan Pemasangan Infus

Menurut Hidayat (2008), tujuan utama terapi intravena adalah mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral, mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan elektrolit, memperbaiki keseimbangan asam basa, memberikan tranfusi darah, menyediakan medium untuk pemberian obat intravena, dan membantu pemberian nutrisi parenteral.

Indikasi Pemasangan Infus

Secara garis besar, indikasi pemasangan infus terdiri dari 4 situasi yaitu ; Kebutuhan pemberian obat intravena, hidrasi intravena, transfusi darah atau komponen darah dan situasi lain di mana akses langsung ke aliran darah diperlukan. Sebagai contoh :

Kondisi emergency (misalnya ketika tindakan RJP), yg memungkinkan untuk pemberian obat secara langsung ke dalam pembuluh darah Intra Vena

Untuk dapat memberikan respon yg cepat terhadap pemberian obat (seperti furosemid, digoxin)

Pasien yg mendapat terapi obat dalam jumlah dosis besar secara terus-menerus melalui pembuluh darah Intra vena

Pasien yg membutuhkan pencegahan gangguan cairan & elektrolit

Untuk menurunkan ketidaknyamanan pasien dengan mengurangi kepentingan dgn injeksi intramuskuler.

Pasien yg mendapatkan tranfusi darah

Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (contohnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan seandainya berlangsung syok, juga untuk memudahkan pemberian obat)

Upaya profilaksis pada pasien-pasien yg tidak stabil, contohnya syok (meneror nyawa) & risiko dehidrasi (kekurangan cairan) , sebelum pembuluh darah kolaps (tak teraba), maka tak mampu dipasang pemasangan infus.

Kontraindikasi Pemasangan Infus

Kontraindikasi relatif pada pemasangan infus, karena ada berbagai situasi dan keadaan yang mempengaruhinya. Namun secara umum, pemasangan infus tidak boleh dilakukan jika ;

Terdapat inflamasi (bengkak, nyeri, demam), flebitis, sklerosis vena, luka bakar dan infeksi di area yang hendak di pasang infus.

Pemasangan infus di daaerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, terutama pada pasien-pasien yang mempunyai penyakit ginjal karena lokasi ini dapat digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah).

Obat-obatan yg berpotensi iritan pada pembuluh vena kecil yg aliran darahnya lambat (contohnya pembuluh vena di tungkai & kaki).

Keuntungan dan Kerugian Pemasangan Infus

Menurut Perry dan Potter (2005), keuntungan dan kerugian terapi intravena adalah :

Keuntungan Pemasangan Infus – Keuntungan terapi intravena antara lain : Efek terapeutik segera dapat tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat, absorbsi total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan, kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik dapat dipertahankan maupun dimodifikasi, rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan intramuskular atau subkutan dapat dihindari, sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinalis.

Kerugian Pemasangan Infus – Kerugian terapi intravena adalah : tidak bisa dilakukan “drug recall” dan mengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas dan sensitivitas tinggi, kontrol pemberian yang tidak baik bisa menyebabkan “speed shock” dan komplikasi tambahan dapat timbul, yaitu : kontaminasi mikroba melalui titik akses ke sirkulasi dalam periode tertentu, iritasi vascular, misalnya flebitis kimia, dan inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan.

Lokasi Pemasangan Infus

Menurut Perry dan Potter (2005), tempat atau lokasi vena perifer yang sering digunakan pada pemasangan infus adalah vena supervisial atau perifer kutan terletak di dalam fasia subcutan dan merupakan akses paling mudah untuk terapi intravena.
Daerah tempat infus yang memungkinkan adalah permukaan dorsal tangan (vena supervisial dorsalis, vena basalika, vena sefalika), lengan bagian dalam (vena basalika, vena sefalika, vena kubital median, vena median lengan bawah, dan vena radialis), permukaan dorsal (vena safena magna, ramus dorsalis).
Dougherty, dkk (2010)
Menurut Dougherty, dkk, (2010), Pemilihan lokasi pemasangan terapi intravana mempertimbangkan beberapa faktor yaitu:

Umur pasien : misalnya pada anak kecil, pemilihan sisi adalah sangat penting dan mempengaruhi berapa lama intravena terakhir

Prosedur yang diantisipasi : misalnya jika pasien harus menerima jenis terapi tertentu atau mengalami beberapa prosedur seperti pembedahan, pilih sisi yang tidak terpengaruh oleh apapun

Aktivitas pasien : misalnya gelisah, bergerak, tak bergerak, perubahan tingkat kesadaran

Jenis intravena: jenis larutan dan obat-obatan yang akan diberikan sering memaksa tempat-tempat yang optimum (misalnya hiperalimentasi adalah sangat mengiritasi vena-vena perifer)

Durasi terapi intravena: terapi jangka panjang memerlukan pengukuran untuk memelihara vena; pilih vena yang akurat dan baik, rotasi sisi dengan hati-hati, rotasi sisi pungsi dari distal ke proksimal (misalnya mulai di tangan dan pindah ke lengan)

Ketersediaan vena perifer bila sangat sedikit vena yang ada, pemilihan sisi dan rotasi yang berhati-hati menjadi sangat penting ; jika sedikit vena pengganti

Terapi intravena sebelumnya : flebitis sebelumnya membuat vena menjadi tidak baik untuk di gunakan, kemoterapi sering membuat vena menjadi buruk (misalnya mudah pecah atau sklerosis)

Pembedahan sebelumnya : jangan gunakan ekstremitas yang terkena pada pasien dengan kelenjar limfe yang telah di angkat (misalnya pasien mastektomi) tanpa izin dari dokter

Sakit sebelumnya : jangan gunakan ekstremitas yang sakit pada pasien dengan stroke

Kesukaan pasien : jika mungkin, pertimbangkan kesukaan alami pasien untuk sebelah kiri atau kanan dan juga sisi

Jenis Cairan Pemasangan Infus

Berdasarkan osmolalitasnya, menurut Perry dan Potter, (2005) cairan intravena (infus) dibagi menjadi 3, yaitu :

Cairan bersifat isotonis : osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).

Cairan bersifat hipotonis : osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.

Cairan bersifat hipertonis : osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate.

Alat dan Bahan Pemasangan Infus

Sebelum melaksanakan pemasangan infus, berikut adalah alat dan bahan yang harus dipersiapkan ketika hendak melakukan tindakan pemasangan infus. Pastikan bahwa ke 12 alat dan bahan ini sudah tersedia.

Standar infus

Cairan infus sesuai kebutuhan

IV Catheter / Wings Needle/ Abocath sesuai kebutuhan

Perlak

Tourniquet

Plester

Guntung

Bengkok

Sarung tangan bersih

Kassa steril

Kapal alkohol / Alkohol swab

Betadine

SOP Pemasangan Infus

Standar Operasional Prosedur (SOP) memasang selang infus yang digunakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia adalah sebagai berikut :

Cuci tangan

Dekatkan alat

Jelaskan kepada klien tentang prosedur dan sensasi yang akan dirasakan selama pemasangan infus

Atur posisi pasien / berbaring

Siapkan cairan dengan menyambung botol cairan dengan selang infus dan gantungkan pada standar infus

Menentukan area vena yang akan ditusuk

Pasang alas

Pasang tourniket pembendung ± 15 cm diatas vena yang akan ditusuk

Pakai sarung tangan

Desinfeksi area yang akan ditusuk dengan diameter 5-10 cm

Tusukan IV catheter ke vena dengan jarum menghadap ke jantung

Pastikan jarum IV masuk ke vena

Sambungkan jarum IV dengan selang infus

Lakukan fiksasi ujung jarum IV ditempat insersi

Tutup area insersi dengan kasa kering kemudian plester

Atur tetesan infus sesuai program medis

Lepas sarung tangan

Pasang label pelaksanaan tindakan yang berisi : nama pelaksana, tanggal dan jam pelaksanaan

Bereskan alat

Cuci tangan

Observasi dan evaluasi respon pasien, catat pada dokumentasi keperawatan

Komplikasi Pemasangan Infus

Terapi intravena diberikan secara terus-menerus dan dalam jangka waktu yang lama tentunya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi. Komplikasi dari pemasangan infus yaitu flebitis, hematoma, infiltrasi, tromboflebitis, emboli udara (Hinlay, 2006).

1. Phlebitis

Inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik. Kondisi ini dikarakteristikkan dengan adanya daerah yang memerah dan hangat di sekitar daerah insersi/penusukan atau sepanjang vena, nyeri atau rasa lunak pada area insersi atau sepanjang vena, dan pembengkakan.

2. Infiltrasi

Infiltrasi terjadi ketika cairan IV memasuki ruang subkutan di sekeliling tempat pungsi vena. Infiltrasi ditunjukkan dengan adanya pembengkakan (akibat peningkatan cairan di jaringan), palor (disebabkan oleh sirkulasi yang menurun) di sekitar area insersi, ketidaknyamanan dan penurunan kecepatan aliran secara nyata.
Infiltrasi mudah dikenali jika tempat penusukan lebih besar daripada tempat yang sama di ekstremitas yang berlawanan. Suatu cara yang lebih dipercaya untuk memastikan infiltrasi adalah dengan memasang torniket di atas atau di daerah proksimal dari tempat pemasangan infus dan mengencangkan torniket tersebut secukupnya untuk menghentikan aliran vena. Jika infus tetap menetes meskipun ada obstruksi vena, berarti terjadi infiltrasi.

3. Iritasi vena

Kondisi ini ditandai dengan nyeri selama diinfus, kemerahan pada kulit di atas area insersi. Iritasi vena bisa terjadi karena cairan dengan pH tinggi, pH rendah atau osmolaritas yang tinggi (misal: phenytoin, vancomycin, eritromycin, dan nafcillin).

4. Hematoma

Hematoma terjadi sebagai akibat kebocoran darah ke jaringan di sekitar area insersi. Hal ini disebabkan oleh pecahnya dinding vena yang berlawanan selama penusukan vena, jarum keluar vena, dan tekanan yang tidak sesuai yang diberikan ke tempat penusukan setelah jarum atau kateter dilepaskan. Tanda dan gejala hematoma yaitu ekimosis, pembengkakan segera pada tempat penusukan, dan kebocoran darah pada tempat penusukan.

5. Trombophlebitis

Trombophlebitis menggambarkan adanya bekuan ditambah peradangan dalam vena. Karakteristik tromboflebitis adalah adanya nyeri yang terlokalisasi, kemerahan, rasa hangat, dan pembengkakan di sekitar area insersi atau sepanjang vena, imobilisasi ekstremitas karena adanya rasa tidak nyaman dan pembengkakan, kecepatan aliran yang tersendat, demam, malaise, dan leukositosis.

6. Trombosis

Trombosis ditandai dengan nyeri, kemerahan, bengkak pada vena, dan aliran infus berhenti. Trombosis disebabkan oleh injuri sel endotel dinding vena, pelekatan platelet.

7. Occlusion

Occlusion ditandai dengan tidak adanya penambahan aliran ketika botol dinaikkan, aliran balik darah di selang infus, dan tidak nyaman pada area pemasangan/insersi. Occlusion disebabkan oleh gangguan aliran IV, aliran balik darah ketika pasien berjalan, dan selang diklem terlalu lama.

8. Spasme vena

Kondisi ini ditandai dengan nyeri sepanjang vena, kulit pucat di sekitar vena, aliran berhenti meskipun klem sudah dibuka maksimal. Spasme vena bisa disebabkan oleh pemberian darah atau cairan yang dingin, iritasi vena oleh obat atau cairan yang mudah mengiritasi vena dan aliran yang terlalu cepat.

9. Reaksi vasovagal

Digambarkan dengan klien tiba-tiba terjadi kollaps pada vena, dingin, berkeringat, pingsan, pusing, mual dan penurunan tekanan darah. Reaksi vasovagal bisa disebabkan oleh nyeri atau kecemasan.

10. Kerusakan syaraf, tendon dan ligament

Kondisi ini ditandai oleh nyeri ekstrem, kebas/mati rasa, dan kontraksi otot. Efek lambat yang bisa muncul adalah paralysis, mati rasa dan deformitas. Kondisi ini disebabkan oleh tehnik pemasangan yang tidak tepat sehingga menimbulkan injuri di sekitar syaraf, tendon dan ligament.

Pencegahan pada Komplikasi Pemasangan Infus

Menurut Hidayat (2008), selama proses pemasangan infus perlu memperhatikan hal-hal untuk mencegah komplikasi yaitu :

Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru

Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infeksi

Observasi tanda / reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain

Jika infus tidak diperlukan lagi, buka fiksasi pada lokasi penusukan

Kencangkan klem infus sehingga tidak mengalir

Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril, lalu cabut jarum infus perlahan, periksa ujung kateter terhadap adanya embolus

Bersihkan lokasi penusukan dengan anti septik. Bekas-bekas plester dibersihkan memakai kapas alkohol atau bensin (jika perlu)

Gunakan alat-alat yang steril saat pemasangan, dan gunakan tehnik sterilisasi dalam pemasangan infus

Hindarkan memasang infus pada daerah-daerah yang infeksi, vena yang telah rusak, vena pada daerah fleksi dan vena yang tidak stabil

Mengatur ketepatan aliran dan regulasi infus dengan tepat.

Penghitungan cairan yang sering digunakan adalah penghitungan millimeter perjam (ml/h) dan penghitungan tetes permenit.

Nutrisi

Nutrisi atau gizi adalah substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan.

Penelitian di bidang nutrisi mempelajari hubungan antara makanan dan minuman terhadap kesehatan dan penyakit, khususnya dalam menentukan diet yang optimal. Dahulu, penelitian mengenai nutrisi hanya terbatas pada pencegahan penyakit kurang gizi dan menentukan kebutuhan dasar (standar) nutrisi pada makhluk hidup. Angka kebutuhan nutrisi (zat gizi) dasar ini dikenal di dunia internasional dengan istilah Recommended Daily Allowance (RDA).

Seiring dengan perkembangan ilmiah di bidang medis dan biologi molekular, bukti-bukti medis menunjukkan bahwa RDA belum mencukupi untuk menjaga fungsi optimal tubuh dan mencegah atau membantu penanganan penyakit kronis. Bukti-bukti medis menunjukkan bahwa akar dari banyak penyakit kronis adalah stres oksidatif yang disebabkan oleh berlebihnya radikal bebas di dalam tubuh. Penggunaan nutrisi dalam level yang optimal, dikenal dengan Optimal Daily Allowance (ODA), terbukti dapat mencegah dan menangani stres oksidatif sehingga membantu pencegahan penyakit kronis. Level optimal ini dapat dicapai bila jumlah dan komposisi nutrisi yang digunakan tepat. Dalam penanganan penyakit, penggunaan nutrisi sebagai pengobatan komplementer dapat membantu efektivitas dari pengobatan dan pada saat yang bersamaan mengatasi efek samping dari pengobatan. Karena itu, nutrisi / gizi sangat erat kaitannya dengan kesehatan yang optimal dan peningkatan kualitas hidup. Hasil ukur bisa dilakukan dengan metode antropometri.

Sedangkan ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan makanan dan minuman terhadap kesehatan tubuh manusia agar tidak mengalami penyakit gangguan gizi, di mana gangguan gizi sendiri adalah sebuah penyakit yang diakibatkan oleh kurangnya zat-zat vitamin tertentu sehingga mengakibatkan tubuh kita mengalami gangguan gizi.

Penyakit gangguan gizi yang pertama kali ditemukan adalah scorbut pada tahun 1497 atau lebih populer kita kenal dengan penyakit seriawan. Pada waktu itu Vasco da Gama dalam pelayarannya menuju Indonesia telah kehilangan lebih dari separuh anak buahnya yang meninggal akibat penyakit ini.[butuh rujukan] Baru pada permulaan abad XX para ahli kedokteran dapat memastikan bahawa penyakit ini diakibatkan karena kekurangan vitamin C.

Pada saat ini kebanyakan penduduk Indonesia mengalami kelebihan nutrisi dan bukannya kekurangan nutrisi. Pada tahun 2007 angka kematian akibat penyakit non-infeksi mencapai 59,5 persen atau jelas sudah melebihi angka kematian akibat penyakit infeksi. Pada tahun 2015, Kementerian Kesehatan meluncurkan program “G4 G1 L5” atau maksimum 4 sendok makan gula (50 gram), 1 sendok teh garam (5 gram) dan 5 sendok makan minyak (67 gram).[1]

Pemasangan SOP NGT

Untuk sebagian besar pasien yang tidak dapat memperoleh asupan oral yang memadai dari makanan, suplemen nutrisi oral, atau yang tidak dapat makan dan minum dengan aman, mereka dapat diberikan nutrisi yang tepat melalui selang nasogastrik atau NGT.

Tujuan dari teknik ini adalah untuk meningkatkan asupan nutrisi setiap pasien dan mempertahankan status gizinya.

Tabung nasogastrik atau NG tube digunakan pada pasien yang menderita disfagia karena ketidakmampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan nutrisi meskipun telah dilakukan modifikasi makanan dan karena kemungkinan terjadinya aspirasi.

Pengertian Pemasangan NGT

SOP Pemasangan NGT

Intubasi nasogastrik (NGT) adalah prosedur di mana tabung plastik tipis dimasukkan ke dalam lubang hidung, menuju esofagus, lalu masuk ke perut.

Setelah selang NGT dipasang dan diamankan dengan benar, perawat dapat memenuhi asupan nutrisi pasien melalui selang atau tabung NG tersebut dengan menggunakan spuit 10cc sebagai penampung awalnya.

Teknik ini sering digunakan untuk memberikan makanan dan obat kepada pasien ketika mereka tidak dapat makan atau menelan.

Tabung NG ini biasanya pendek dan kebanyakan digunakan untuk menyedot isi dan sekresi lambung.

Jenis-Jenis Selang NGT

Selang yang masuk dari lubang hidung ke duodenum atau jejunum disebut saluran nasoenterik. Panjang tabung ini bisa sedang (yang digunakan untuk makan) atau panjang (yang digunakan untuk dekompresi, aspirasi).

Dua Jenis Tabung Hisap Gastrointestinal (GI)

Ada berbagai tabung yang digunakan dalam intubasi GI tetapi dua berikut ini yang paling umum:

  • Levin Tube. Merupakan tabung plastik multiguna lumen tunggal yang biasa digunakan dalam intubasi NG.
  • Salem Sump Tube. Tabung lumen ganda dengan “kuncir” yang digunakan untuk suction intermiten atau kontinu.

Tujuan Pemasangan NGT

Tujuan pemasangan NGT adalah sebagai berikut :

  • Memberikan nutrisi pada pasien yang tidak sadar dan pasien yang mengalami kesulitan menelan.
  • Mencegah terjadinya atropi esophagus/lambung pada pasien tidak sadar.
  • Untuk melakukan bilas lambung pada pasien keracunan.
  • Untuk mengeluarkan darah pada pasien yang mengalami muntah darah atau pendarahan pada lambung.

Indikasi Pemasangan NGT

Dengan memasukkan NGT, Anda mendapatkan akses masuk atau koneksi langsung ke perut dan isinya. Indikasi terapeutik untuk intubasi NG meliputi:

1. Dekompresi lambung

Tabung nasogastrik terhubung ke suction untuk memfasilitasi dekompresi dengan membuang isi lambung. Dekompresi lambung diindikasikan untuk obstruksi usus dan ileus paralitik dan bila pembedahan dilakukan pada lambung atau usus.

2. Aspirasi kandungan cairan lambung

Baik untuk drainase atau mendapatkan spesimen untuk dianalisis. Ini juga akan memungkinkan drainase dalam kasus overdosis atau keracunan obat.

3. Pemberian makan dan pemberian obat

Memasukan selang NGT ke saluran GI akan memungkinkan pemberian makan dan pemberian berbagai obat. Tabung NG juga dapat digunakan untuk makanan enteral pada awalnya.

4. Pencegahan muntah dan aspirasi

Dalam pasien-pasien trauma, tabung NG dapat digunakan untuk membantu pencegahan muntah dan aspirasi, serta untuk penilaian perdarahan pada gastro-intestinal (GI).

Kontraindikasi Pemasangan Infus

  • Trauma wajah/midface yang berat (adanya gangguan pada cribiform plate)
  • Adanya risiko memasukkan nasogastric tube ke intrakranial
  • Pada kasus ini sebaiknya gunakan selang orogastrik
  • Riwayat baru dilakukan operasi pada daerah hidung
  • Gangguan koagulasi
  • Sedang konsumsi obat antikoagulan
  • Varises esofagus
  • Striktur esofagus
  • Riwayat baru dilakukan ligasi (banding) varises esofagus
  • Tertelan bahan bersifat basa (risiko terjadinya ruptur esofagus)

Resiko dan Kompilkasi Pemasangan NGT

Seperti kebanyakan prosedur, pemasangan selang NGT tidak semuanya bermanfaat bagi pasien karena risiko dan komplikasi tertentu yang mungkin terjadi, seperti:

Makanan Malam Hari yang Sehat

Terkadang, memasak terasa seperti tugas berat di penghujung hari yang sibuk. Sering kali ada godaan untuk sekadar memasukkan makanan siap saji ke dalam oven atau membungkus makanan dari restoran. Tetapi menyiapkan makanan yang sederhana dan sehat untuk keluarga tidak harus sulit atau menyita waktu. Berikut beberapa hidangan cepat saji sehat yang akan Anda dan keluarga Anda sukai. Hidangan berikut bahkan dapat disiapkan sebelumnya.

Lebih lezat dari Poutine

Apakah yang lebih lezat dari sepiring kentang goreng, saus, dan dadih keju yang mengepul? Kentang goreng, saus, dadih keju, dan daging bakon, adalah jawabannya! Tambahkan bawang merah segar, cabai, dan sedikit saus sumsum panggang dan bebek, dan hidangan populer Prancis-Kanada akan menjadi hidangan yang membuat kita serasa di surga.

Sarapan di Rumah saya

Di hari kerja kita sering keluar dari rumah dengan kopi di satu tangan dan sepotong roti panggang di tangan lainnya, tetapi di akhir pekan, sarapan selalu lebih santai. Segala sesuatu berjalan lebih lambat. Terkadang sudah dekat ke waktu makan siang, dengan banyak selingan bacaan dan perbincangan saat menyantap buah-buahan, telur rebus, madu, dan roti panggang. Salah satu hidangan favorit yang ingin kami sajikan untuk teman yang berkunjung adalah panekuk soba dengan blueberry.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai